Riset ini menyoroti pertumbuhan media digital yang membagikan akibat terhadap pergantian budaya politik di Indonesia. Media digital yang terus menjadi gampang diakses sudah menciptakan dinamika ataupun pergantian sikap serta artikulasi politik yang lumayan intens. Tetapi, pengaruh

tersebut belum banyak dibahas oleh para periset. Sehingga, riset ini muncul selaku a preliminary discussion, yang menarangkan pergantian yang terjalin dalam budaya politik di Indonesia, sejalan dengan maraknya pemakaian media digital baru dengan mempertimbangan keadaan sosial politik serta modernisasi.

Hermansah serta Sumadinata mendiskusikan gimana korelasi media serta budaya politik yang terjalin di masa pemerintahan Soeharto, paska Soeharto, serta di masa kemajuan digital, ialah masa SBY serta Jokowi. Perihal ini sebab terdapatnya perbandingan‘ posisi’ media di tengah warga. Dalam harian ini, kedua periset setuju memakai perspektif sosiologi dalam mendiskusikan budaya politik tersebut.

Riset ini memakai tata cara perbandingan sejarah( historical- comparative method) dengan pendekatan interpretivisme. Tata cara ini sudah lama digunakan para periset buat menganalisis serta membagikan masukan mendalam terhadap isu- isu sosial.

Hasil & Pembahasan  contoh review jurnal

Hermansah serta Sumadinata mangulas riset ini ke dalam 3 topik, ialah the characteristics of power in Indonesia’ s political culture, political culture in the post- Soeharto period( direct election and mass media), serta Indonesian democracy in the new digital age.

Hasil kajian ini membuktikan kalau budaya politik Indonesia sudah lama dibangun oleh konsepsi kedekatan kekuasaan tradisional. Tetapi, di masa pasca- Soeharto, kala hadirnya kebebasan media, sistem pemilihan universal secara langsung serta keutamaan media tv sudah mempromosikan preferensi pemilih popular yang mendegradasi tokoh- tokoh kharismatik tradisional tadinya.

Tidak hanya itu, pertumbuhan media sampai hingga pada masa keemasan kebangkitan internet serta media social membagikan implikasi demokratisasi dengan tingkatkan dialog publik secara online. Tetapi, pertumbuhan media digital pula menggambarkan lintasan kontraproduktif terhadap nilai- nilai demokratis, kala friksi- friksi online menyulut pengelompokkan berbasis etnik serta keagamaan.

Kesimpulan

Periset merumuskan kalau pergantian budaya politik di Indonesia sangat berkolerasi dengan kemajuan teknologi data serta media komunikasi. Timbulnya new media serta internet di akhir pemerintahan Soeharto sudah menunjang kubu oposisi yang tidak cuma menjatuhkan rezim yang berkuasa namun pula mendesak timbulnya liberalisasi data yang pada gilirannya melemahkan kecenderungan politik hegemonik.

Paska pemerintahan Soeharto, kita bisa memandang gimana media berfungsi berarti dalam mengalahkan primordialisme di pemilu. Tahun 2004, SBY sukses mengalahkan Megawati dengan kemampuannya dalam memakai media tv buat membangun citranya. Tahun 2012, dengan kekuatan media social, Jokowi timbul selaku‘ pemimpin warga’ menantang Prabowo dari golongan militer. Tahun 2017, dalam pemilu gubernur DKI Jakarta, terdapatnya gesekan etnis serta agama dalam debat politik yang terjalin di media sosial. Dampaknya, wacana yang timbul kerap berhubungan dengan representasi etnis serta agama, serta konten yang memecah belah terus menjadi bertambah.

Sehingga, pemakaian media digital dalam konteks politik sudah mendesak demokratisasi, membagikan kesempatan untuk orang biasa buat ikut serta dalam proses politik. Tetapi, proses tersebut merangsang pemahaman hendak posisi bukti diri, paling utama etnis serta agama, yang membuat wacana politik online diwarnai dengan sentimen rasis. Media sosial sudah jadi medan pertempuran yang tidak sehat. konflik antara kelompok politik yang berseberangan tidak lagi nampak rasional, melainkan tersendat oleh kepekaan bukti diri. Kecenderungan ini hendak teruji susah ditangguhkan. Kesimpulannya, periset mempertanyakan apakah media sosial sudah pengaruhi demokrasi Indonesia secara paradoks. Periset memandang kalau walaupun pemakaian internet serta media sosial membagikan akibat demokratisasi terhadap budaya politik Indonesia, identitas politik tradisional semacam primordialisme masih bertahan dalam warga yang terus menjadi digital.

Critical Review https://academia.co.id

Riset yang dicoba oleh Herdiansah serta Sumadinata ini sangat kaya pengetahuan, sehingga membagikan data ataupun cerminan yang berguna dalam kaitannya dengan budaya politik di Indonesia serta media digital. Kedua periset menguraikan kedudukan media dalam pengaruhnya terhadap budaya politik di tiap- tiap masa pemerintahan secara runut. Kedua periset ialah pakar di bidang politik, sehingga kemampuannya dalam menyoroti bermacam perkara politik tidak diragukan lagi. Perihal inilah yang mendasari harian ini berangkat dari perspektif ilmu politik serta sosiologi.

Walaupun demikian, riset yang dicoba berkaitan pula dengan media digital. Sehingga, barangkali hendak menimbulkan perspektif baru apabila riset seragam dicoba dengan sudut pandang yang berbeda, misalnya dari bermacam teori dalam ilmu komunikasi.

Kemajuan media digital diakui sudah membuka keran demokrasi, di mana terdapatnya arena perdebatan baru di tengah warga. Warga mempunyai kekuatan buat bersuara. Tetapi, perihal ini pula jadi PR untuk demokrasi di Indonesia, sebab perdebatan politik yang terjalin di media digital tidak tidak sering bersinggungan dengan etnis serta agama, 2 perihal yang sangat krusial. Penulis berkomentar kalau perihal ini terjalin salah satunya sebab pengguna media digital bisa menyembunyikan bukti diri aslinya, sehingga merasa tidak butuh bertanggung jawab atas statment yang mereka perdebatkan di media digital. Prilaku pengguna digital dalam berdebat di media digital bisa dianalisis dengan memakai teori dalam ilmu komunikasi.

Baca Juga : 7 Tip untuk Memperbarui Interior Tradisional

Kelebihan

1.  Tata cara analisis historical- comparative sangat mempermudah pembaca buat menguasai budaya politik Indonesia berkaitan dengan media dari masa ke masa.

2. Abstrak yang ditulis lumayan merata serta gampang dimengerti oleh pembaca.

3. Penulis menguraikan perkara dengan jelas.

4. Struktur penyusunan runut, sehingga gampang dimengerti pembaca.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *